Ad
Kota Suwayda dan sekitarnya kembali menjadi titik panas setelah meningkatnya eskalasi konflik di wilayah pedesaan barat, khususnya di sekitar Desa al-Majdal. Laporan terbaru menyebut adanya pergerakan signifikan dari kelompok-kelompok yang tergabung dalam "Haris al-Watani" atau National Guard, sebuah milisi Druze pro Israel pimpinan Al Hajri.
Menurut sumber lokal, kelompok ini memperkuat penyebaran pasukan di dalam kota Suwayda dan di wilayah sekitarnya khususnya perkampungan Arab yang dikuasai pemerintah. Langkah ini terjadi menyusul meningkatnya ketegangan di pedesaan barat, yang telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga sipil.
Sejumlah info beredar tentang persiapan operasi militer untuk menguasai kembali desa-desa yang saat ini berada di bawah kendali Pasukan Keamanan Internal. Laporan juga menyebut bahwa National Guard sempat menembakkan flares atau bom penerangan di area tersebut, menandakan kesiapan tempur. Kelompok Druze mendirikan negara de facto bernama Jabal Bashan di 1/3 wilayah Suwayda yang tidak dikuasai pemerintah Suriah.
Ketegangan internal juga muncul antara beberapa kelompok lokal. Konflik terlihat antara “Perlawanan Druze al-Maqran al-Gharbi” dan unit “Fursan Hamza” serta Brigade 164, dengan pimpinan Ruang Operasi Suwayda, terkait upaya penyusupan yang tidak terkoordinasi ke desa-desa Al-Mazra’a, Al-Mansura, Rima Hazem, dan Walgha.
Pagi hari ini, bentrokan kembali meletus di pedesaan barat Suwayda. Pasukan Keamanan Internal menembakkan mortir ke titik-titik National Guard di Desa al-Majdal untuk menangkis upaya penyusupan yang terus berlangsung.
Dalam insiden ini, seorang anggota National Guard dilaporkan tewas. Tiga anggota lain mengalami luka ringan akibat bentrokan, sementara suara tembakan dan ledakan mortir terdengar terus menerus di area tersebut.
Sumber militer menyebut bahwa eskalasi ini merupakan puncak dari ketegangan yang sudah berlangsung beberapa minggu. Peningkatan penyebaran pasukan National Guard dianggap sebagai upaya menunjukkan kekuatan di tengah ketidakpastian politik lokal.
Masyarakat sipil dilaporkan mulai resah dengan situasi ini. Aktivitas harian warga terganggu, terutama di desa-desa yang menjadi medan bentrokan langsung, karena risiko keselamatan terus meningkat.
Para pengamat lokal menyatakan bahwa konflik ini bukan sekadar persaingan militer. Ada dimensi politik dan sosial di balik pergerakan National Guard dan Pasukan Keamanan Internal, termasuk perebutan pengaruh di wilayah pedesaan yang strategis.
Sejumlah warga menyebut bahwa adanya kelompok-kelompok bersenjata lokal yang tidak sepenuhnya terintegrasi membuat koordinasi di lapangan menjadi rumit. Hal ini memicu kebingungan saat terjadi upaya penyusupan ke desa-desa kritis.
Pihak keamanan internal menegaskan bahwa mereka akan terus menindaklanjuti setiap penyusupan yang dilakukan National Guard. Tindakan ini dilakukan demi mempertahankan kendali atas wilayah yang telah dikuasai dan untuk melindungi warga lokal.
Sementara itu, National Guard menekankan bahwa penyebaran pasukan mereka bertujuan untuk menegakkan keamanan di wilayah yang menurut mereka rentan terhadap gangguan. Mereka menekankan kesiapannya untuk menghadapi ancaman dari pihak manapun.
Bentrokan pagi ini menunjukkan bahwa koordinasi antar-kelompok masih lemah. Upaya penyusupan yang tidak terencana menimbulkan korban, terutama di pihak National Guard.
Penduduk desa merasa terjebak di tengah konflik yang kian intens. Mereka mengaku kesulitan menjalankan aktivitas pertanian dan perdagangan karena risiko tembakan mortir dan ledakan bom penerangan.
Analisis militer lokal menyebut bahwa medan pedesaan barat Suwayda sangat kompleks. Bukit-bukit dan lembah menjadi titik strategis yang sulit dikontrol sepenuhnya oleh satu pihak.
Beberapa sumber menambahkan bahwa hubungan antar-kelompok lokal juga dipengaruhi oleh sejarah lama persaingan suku dan loyalitas politik. Faktor ini membuat resolusi konflik menjadi lebih rumit.
Meski demikian, pimpinan ruang operasi Suwayda berusaha menegaskan bahwa tujuan akhir adalah stabilitas wilayah. Mereka menyatakan akan terus melakukan operasi untuk menegakkan keamanan dan melindungi warga sipil.
Sementara itu, National Guard mengklaim bahwa setiap langkah mereka bersifat defensif dan dilakukan untuk menjaga wilayah dari potensi ancaman eksternal maupun internal.
Suasana tegang ini memaksa warga di desa-desa terdampak untuk tetap waspada. Sekolah dan pasar lokal beroperasi dengan jam terbatas, sementara aktivitas sosial dibatasi demi keselamatan.
Keseluruhan situasi di pedesaan barat Suwayda menjadi peringatan nyata bahwa konflik lokal dapat meningkat kapan saja. Koordinasi dan komunikasi antara berbagai kelompok bersenjata dan aparat keamanan masih menjadi kunci untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.
Dengan demikian, Suwayda kini berada di persimpangan kritis antara stabilitas dan konflik berkepanjangan. Keputusan dari pimpinan lokal dan tindakan pasukan bersenjata akan menentukan arah keamanan di wilayah yang strategis ini.
Ad
